Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Kamu Punya Superman, Aku Punya Gatotkaca!


Seorang bayi lahir. Dinamakan Tetuko. Kelahirannya penuh kontroversi. Perlu pusaka suci untuk memotong ari-arinya.

Jabang Tetuko tak sempat menikmati masa bayinya bersama sang bunda. Begitu lahir, ia langsung dicemplungkan ke dalam kawah Candradimuka. Digodog dan digembleng habis-habisan.

Hasilnya sangat memuaskan: si bayi Tetuko jadi super kuat bak Superman. Kebal segala senjata, otot kawat tulang besi, dan kemampuan terbang secepat kilat.

Saat dewasa, si Tetuko dikenal orang dengan nama Gatotkaca. Dia terbang, menyambar kepala para raksasa, dan menyiramkan darah Kurawa ke bumi pertiwi.

Tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Hingga sang dalang mengakhiri pertunjukan malam itu dan menaruhnya dalam kotak persegi panjang berukuran 1x2 meter.

Pak Tani Yang Ingin Menjadi Gunung


Iki cerito jaman SD biyen. Mumpung eling, diabadikno wae nang blog.

Ngene ceritoe: 

Dulu, ada seorang petani yang suka mengeluh. 

Dia mengeluh sama Tuhan, "Ya Tuhan, kok panas banget ya hari ini?" 

Ndilalah kersaning Gusti, petani itu berubah. Bertransformasi menjadi matahari. The light of the world. Dia menyinari dan memanggang dunia. 

Enak-enak jadi matahari, lha kok mak njemunuk ada awan mendung nyelonong nutupi pak tani alias matahari itu. Pak tani itupun ngresulo lagi. "Ya Tuhan, ini awan kok kurang kerjaan banget ya, nutup-nutupin matahari?" 

Wuzzhhh! Dalam sekejap pak tani berubah jadi awan. Membasahi bumi, kadang2 membanjiri juga. 

WeZzzh!! Awan superior jelmaan pak tani tak bertahan lama karena sang angin dan meniupnya hingga tercerai berai. Lagi-lagi pak tani wadul ke Tuhan, dan dalam sak klebatan pak tani sudah berubah jadi angin. Terbang ngalor ngidul. Bikin topan di situ dan tornado disana. Meniup semua yang ada. 

Tapi, pas enak-enak terbang sambil niup-niup, angin jelmaan pak tani ini nabrak gunung yang diam membisu layaknya raksasa. Disebul bolak balik, gunung itu tetap tak bergeming. 

Pak tani kita inipun mengadu ke Tuhan dan mak jlegerrr: pak tani jadi gunung. Diam, mendongak ke langit sambil sesekali batuk lahar. 

Tapi suatu ketika, gunung jelmaan wak tani kita ini kesakitan. Apa gerangan yang terjadi? Usut punya usut, ternyata ada orang yang macul-macul, bikin terasiring di badannya. Another complaint to his God, dan wuzzzzz..... 

Pak tani mbalik lagi jadi pak tani.

Ilmu Kebal



Suatu hari, seorang pedagang apel datang ke sebuah kota.


Disana ia membuka sebuah toko kecil di pinggir jalan.


Sedikit demi sedikit, toko yang dikelola pedagang itu mulai dikunjungi pelanggan. Orang-orang kota menyukai apelnya karena rasanya yang manis dan segar.


Pada suatu malam, entah kenapa sang pedagang memiliki ide untuk mengurangi berat timbangan apelnya. "Bila aku melakukan hal ini, keuntungan yang kudapat akan semakin berlipat ganda" bisiknya dalam hati.


Keesokan harinya, ia mulai mengurangi timbangan apelnya sedikit demi sedikit. Tak ada seorang pelanggan pun yang curiga. Mereka tetap membeli apel dari tokonya, karena apelnya memang manis dan segar.


Pedagang itu lalu mengurangi takarannya lagi. Lama kelamaan, ia hanya menjual separuh dari apa yang seharusnya menjadi hak pelanggannya dengan harga yang sama. Namun anehnya pelanggannya tak berkurang, namun semakin bertambah ramai saja.


Penjual itu tertegun sejenak, namun ia kembali meneruskan perbuatannya.

Kini ia mulai menurunkan kualitas apelnya, sedikit demi sedikit. Pelanggannya sempat berkurang, namun keesokan harinya toko apelnya kembali dipenuhi pelanggan karena iklan penuh kebohongan yang dibuatnya secara besar-besaran. Para pelanggan pun lupa dengan kualitas apelnya dan tetap ramai memenuhi tokonya. Apel di tokonya menjadi simbol status sosial bagi kota itu.


Penjual itu tertegun sejenak, namun ia kembali meneruskan perbuatannya.


Tak terhitung sudah berapa pedagang buah dari kota lain dilarang berjualan di kota itu. Ia menggunakan segala cara agar ia dapat menjadi satu-satunya pedagang apel di kota itu. Membunuh, memeras, menyuap, memanipulasi, apapun ia lakukan agar monopoli perdagangan tetap dikuasainya.


Penjual itu memang sempat tertegun sejenak, namun ia kembali meneruskan perbuatannya. Bahkan ia menikmatinya.

Nampaknya, dia sudah mulai kebal dengan semua perbuatannya.


Saya jadi paham mengapa agama melarang kita untuk belajat ilmu kebal. Kekebalan membuat kita tidak bisa merasakan sakit, tak bisa membuat kita peka. Tahu-tahu kanker sudah merambahi seluruh tubuh. - Emha Ainun Nadjib

Mari Mengenali Karakter Anda Melalui Kisah (Fiktif) Dari Miyamoto Musashi Berikut Ini!

Ape lu liat-liat?

Jagoan pedang kita, Miyamoto Musashi ditantang sama bandit desa bernama Bejo Watanabe.

Eitts, jangan protes. Simak dulu ceritanya.

Si Bejo Watanabe ini gerah lantaran Musashi tiba-tiba nyeludur masuk wilayah kekuasaannya dan menggarap ladang tanpa memberikan upeti. Musashi berdalih bahwa tanah kosong itu bukan milik siapa-siapa, jadi ia merasa berhak untuk mengolahnya. Pada masa itu belum ada surat tanah dan sebagainya, sehingga barangsiapa menemukan lahan kosong, maka siapapun berhak untuk mengolah dan memanfaatkannya.

Karena dua-duanya sama-sama ngotot, maka pedanglah yang jadi penengahnya. Bejo Watanabe menghunus pedangnya, menantang Musashi untuk melakukan hal yang serupa.

Musashi sempat ragu. Dirabanya ujung gagang pedangnya. Setelah melihat sebentar ke arah Bejo Watanabe, lalu....

SETTT!! CKRING!!!

Musashi balik kanan, mengemasi barang-barangnya lalu pergi meninggalkan Bejo Watanabe dan ladangnya.

Dengan wajah blo'on, Bejo Watanabe melongo. Musashi terus berjalan, semakin menjauh.

Lima tahun Musashi mencari jawaban kenapa dia mundur dari pertarungan itu. Mungkinkah dia gengsi kalau harus berhadapan dengan orang sekaliber Bejo W? (capek nulisnya) Dia tahu, kemampuan berpedang si Bejo W tidak ada apa-apanya. Dengan sekali tebas, Musashi yakin ia bisa segera bikin kepala si Bejo ini melayang.

Atau mungkin ia memutuskan untuk melawan sesuatu yang lebih kuat dari si Bejo W: keinginan untuk menang?

Atau mungkin ia malu diliatin orang banyak? Entahlah. Yang pasti masyarakat terus-menerus menggunjingkan dirinya yang 'kabur' dari duel itu.

Di bulan Desember akhir dari lima tahun pengembaraannya, Musashi ketemu (Alm) Ustadz Jefri. Ia mencurahkan kegundahan hatinya ini pada sang ustadz dan minta nasehat.

Ustadz kita ini cuma tersenyum lalu bilang, "Nggak ada gunanya kamu menghiraukan gunjingan-gunjingan masyarakat tentang kamu, namun kamu tetap harus membuktikan karakter dan kepribadianmu. Orang boleh bilang kamu pengecut dan kamu tidak perlu menanggapinya. Yang perlu kamu lakukan cuma sekedar membuktikan karakter dan kepribadianmu: apakah kamu seorang pengecut atau bukan".

*********

Nah para pembacaku yang baik dan luas hatinya, jangan langsung gundah gulana ketika Anda dituduh ini itu padahal Anda nggak merasa seperti itu. Nggak perlu sampeyan pedulikan tuduhan-tuduhan semacam itu. Tapi sampeyan juga kudu introspeksi diri karena nggak mungkin ada asap kalo nggak ada api. Yang perlu sampeyan lakukan cuma berbuat, melakukan hal yang merepresentasikan karakter sampeyan. Urusan salah tompo dan sebagainya itu bukan urusan sampeyan.

Buat Yang Belum Pernah Bilang I Love You, Mungkin Anda Ini Cuma Pengantar Susu!


(Cerita berikut ini terinspirasi dari film Perancis berjudul He Loves Me, He Loves Me Not yang dibintangi Audrey Tautou)

Pengantar susu adalah pengantar susu. Dia tak pernah menjadi penjual susu yang - layaknya penjual pada umumnya - selalu bermulut manis. Tidak. Pengantar susu tidak bisa bermulut manis. Ia lebih cenderung bermulut sepi daripada bermulut manis. Bermulut senyum? Mungkin, tapi sangat jarang sekali. Senyum tak akan membuat susu datang di depan pintu pelanggan tepat waktu. 

Mungkin karena alasan itu pengantar susu lebih membutuhkan kaki-kaki tangkas pengayuh pedal kehidupan yang harus tepat waktu. Kaki-kaki gempal dan pejal yang kuat mengarungi puluhan kilometer untuk mengantarkan nektar sapi dalam botol kaca. Ya. Kaki-kaki itu lebih bermanfaat daripada kata-kata bualan yang manis penuh jerat. Pengantar susu sepakat dengan hal ini. 

Pengantar susu tak memerlukan banyak partner dalam bekerja. Ia cukup bergaul dengan botol-botol kaca dan kaleng-kaleng besi. Pengantar susu tak perlu memiliki kemampuan Public Relations yang bagus. Tak perlu kemampuan Public Speaking yang mumpuni. Kedua kemampuan itu hanya wajib dimiliki penjual susu, bukan pengantar susu. 

Namun bagaimana dengan hati? Perlukah pengantar susu menyertakan hati dalam profesionalisme kerjanya? Pengantar susu diam saja. Ia jarang menginterview hatinya. Namun entah perlu atau tidak, pengantar susu telah melibatkan hatinya dalam urusan pekerjaan. 

Gadis itu. Gadis di rumah mungil bercat putih gading berpagar bambu yang setiap pagi mengambil susu dari depan pintu. 

Pengantar susu sering mengawasinya. 
Pengantar susu sering mengintipnya. 
Pengantar susu sering memperhatikannya. 

Pengantar susu sering memikirkannya. "Apakah ia telah bersuami? Apakah ia senang akan susu-susu yang masih hangat ketika sampai di genggamannya, bahkan di tenggorokannya? Adakah seseorang yang akan menyeka sisa-sisa susu yang menetes dari mulut ke lehernya yang jenjang?" 

Pengantar susu telah menjatuhkan hatinya bersamaan ketika ia menaruh botol susu yang kesekian di depan pintu rumah gadis itu. 

Ingin ia masuk dan mengajak gadis itu bicara panjang lebar. 
Ingin ia menyeruak ke dalam hati gadis itu dan menempelkan hatinya yang tak berhenti berdegup saat mereka dekat. 

Ingin ia memiliki gadis itu. 

Namun tak bisa. Tidak bisa. Dunia kita berbeda. Kondisi sosial kita tak sama. 'Agama' kita lain. Perbedaan ini terlalu besar untuk diselaraskan. Terlalu luas untuk disatukan. Lihat? Aku pengantar susu dan kau gadis rumahan. 

"Tak perlu kau khawatirkan bagaimana caramu mencintaiku, yang terpenting adalah bagaimana caraku menyayangimu".

Monster Yang Tak Memiliki Nama


(Cerita berikut merupakan terjemahan bebas dari sebuah cerita didalam komik Monster  karya Urasawa Naoki)

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor monster yang tidak mempunyai nama. Ia sangat menginginkan sebuah nama.

Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan untuk mencari sebuah nama, namun dunia adalah tempat yang sangat luas.

Monster itu kemudian membelah tubuhnya menjadi dua. Yang satu pergi ke arah timur sedangkan yang lainnya pergi ke arah barat. Monster yang pergi ke timur kemudian sampai di sebuah kota.

Dia bertemu seorang pandai besi bernama Otto. Sang monster berkata, "Berikan aku namamu dan akan kubuat kau jadi kuat". Otto pun setuju. Sang monster masuk ke dalam perut Otto dan membuatnya kuat. Namun lama kelamaan, sang monster mulai merasa lapar. Iapun memakan Otto dari dalam, kriuk kriuk nyam nyam glek glek bluk. Sang monster kini tak memiliki nama lagi.

Dia lalu bertemu dengan Hans, si tukang sepatu. Sang monster berkata, "Berikan aku namamu dan akan kubuat kau jadi kuat". Hans pun setuju. Sang monster masuk ke dalam perut Hans dan membuatnya kuat. Namun lama kelamaan, sang monster mulai merasa lapar. Iapun memakan Hans dari dalam, kriuk kriuk nyam nyam glek glek bluk. Sang monster kini tak memiliki nama lagi.

Dia lalu bertemu dengan Thomas, seorang pemburu. Sang monster berkata, "Berikan aku namamu dan akan kubuat kau jadi kuat". Thomas pun setuju. Sang monster masuk ke dalam perut Thomas dan membuatnya kuat. Namun lama kelamaan, sang monster mulai merasa lapar. Iapun memakan Thomas dari dalam, KRIUK KRIUK NYAM NYAM GLEK GLEK BLUK. Sang monster kini tak memiliki nama lagi.

Sang monster lalu pergi ke istana raja untuk mencari nbama yang indah. Dia bertemu seorang pangeran yang sedang sakit. Sang monster berkata, "Berikan namamu dan akan kubuat kau jadi kuat". Sang pangeran menjawab, "Jika kau bisa menyembuhkan sakitku, akan kuberikan namaku kepadamu".

Sang monster lalu melompat masuk kedalam perut sang pangeran lewat mulutnya. Sang pangeran kemudian menjadi sangat sehat.

Raja pun senang. "Akhirnya anakku sembuh, akhirnya anakku sembuh".

Sang monster menyukai nama pangeran. Dia juga menikmati hidup di istana, hingga ia menahan rasa laparnya. Tiap hari ia merasa lapar, namun ia tidak mempedulikannya.

Namun suatu hari, ia merasa sangat sangat lapar. "Lihatlah monster di dalam diriku! Dia telah membesar dan membesar!".

Sang pangeran lalu memakan raja, seluruh pembantu serta pengawal-pengawalnya. Kriuk kriuk nyam nyam glek glek bluk.

....................................

Suatu hari kemudian, sang pangeran bertemu dengan monster yang pergi ke barat. Sang pangeran berkata, "Aku telah mempunyai sebuah nama yang sangat bagus".

Monster yang pergi ke barat berkata, "Kau tidak membutuhkan nama. Kau tetap bisa berbahagia tanpa memiliki nama, karena kita adalah monster yang tak bernama".

Sang pangeran lalu memakan monster yang pergi ke barat.

Walaupun ia telah memiliki nama, namun tak ada seorangpun yang memanggil namanya.

Johan adalah nama yang bagus.

Musashi is a Badass :))



Setelah membaca novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, saya menemukan kalimat berikut:


"Daripada kau ingin ini atau itu, lebih baik jadikan dirimu raksasa yang diam tak bergerak, seperti Gunung Fuji. Jangan buang waktu buat mempesona orang. Kalau kau bisa menjadi orang yang pantas dihormati orang banyak, mereka akan menghormatimu biarpun kau tidak melakukan sesuatu"

Yup.

Chuck Norris? Who is she?

3,9,14,20,1

How do you calculate your love?

Cinta.

Segala sesuatu gampang dimulai, kecuali cinta. Kalau mau cari ilmu, kita tinggal buka buku. Kalau mau utang di bank, kita tinggal bawa jaminan. Kalau mau main sepakbola, kita tinggal pakai sepatu dan turun ke lapangan.

Tetapi akan memulai cinta? Betapa sukarnya! Itulah yang aku alami tadi pagi. Aku mau menulis tentang cinta, tapi tidak tahu harus dimulai dari mana.

Cinta itu mahluk yang paling kudus. Apakah engkau akan mendatangi gadis yang engkau cintai dengan membawa seikat bunga dan mengucapkan "Aku cinta padamu" atau engkau memperhatikan apa yang diperlukan gadis itu, apa kesulitannya, dan engkau membantunya?

Jangan memancing saya untuk mulai membahas tentang kebencian.

Mimpi Buruk


Suatu malam saya bermimpi. Mimpi yang sangat menakutkan sekali.

Kita tidak mau dikatakan pengecut, tapi kita sering bertindak seperti pengecut.

Apa sih pengecut itu? Tindakan pengecut menggambarkan ketidakberanian. Karena kita tidak berani, kitapun menyembunyikannya dalam keberanian bergerombol. Kita pengecut jika sendirian, namun tiba-tiba bertransformasi menjadi sosok yang gagah berani jika berada dalam kelompok. Kita ini manusia tanpa harga diri, manusia massa, bukan individu.

Keberanian itu masalah individu. Orang yang berani selalu memiliki landasan kebenaran yang universal. Kadang kita mengetahui kebenaran itu, tetapi tidak berani membelanya. Kita adalah pengkhianat kebenaran, takut mengambil resiko dan berubah menjadi mahluk pengecut. Kita tidak berani menanggung resiko kehilangan reputasi, jabatan, simpanan bank, atau persahabatan demi mempertahankan sesuatu yang takkan memberikan kita apa-apa kecuali martabat diri sebagai manusia.

Kita hanya merasa aman dalam gerombolan. Kita hanya berani atas nama golongan, ras, partai, jemaat, atau suku. Kita menjadi bagian dari suatu gerombolan yang tak berwajah. Di luar gerombolan, kita tak bermakna. Kalau sendirian, kita tak berharga. Tak punya pribadi, tak punya wajah, tak punya keberanian.

Kalau sudah seperti ini, tak jarang kita dengar suara-suara sinis para pengecut dengan sindiran sok berani, sok pahlawan, sok jago, atau pahlawan kesiangan. Buntutnya adalah kata-kata: yang penting aman.

Sungguh mimpi buruk yang sangat menakutkan, bukan?

Menunggu Isya'

"Senja telah berlalu, Maghrib baru saja usai.
Kenangan yang lama berlabuh, tak harus dibingkai dengan badai."
-Syamsidar Adi Tanda Putra-

Ya. Malam ini adalah malam pertama di awal tahun dua ribu tiga belas. Dan saya merasa agak melankolis.

Rupanya ini ada kaitannya dengan beberapa orang yang signifikan dalam perjalanan hidup saya dan beberapa momentum yang mereka ciptakan di sela-sela helaan nafas yang saya hirup.

Dan membekas dengan tinta bold hitam di harddisk otak saya.

Oke. Di awal tahun ini, orang-orang beramai-ramai menatap ke depan sembari make a wish. Berharap banyak hal yang mengkilap dan muluk-muluk.

Namun anehnya, saya malah melamun tentang masa lalu. Sejarah hidup yang rasa-rasanya tak pernah berhenti menginspirasi saya dan melecut punggung kerbau saya.

Menilik dari catatan setahun yang lalu, di tahun saya ingin selalu sholat tepat waktu.

Itu saja dulu.

Dan sebelum jatuh tertidur, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan empat raka'at yang sangat menggiurkan itu.

Siapapun yang kebetulan membaca tulisan ini pas manjing waktu Isya' dan kebetulan pula seorang Muslim, monggo sholat.

Hidup di dunia itu susah, tapi akan lebih susah lagi kalo kita lupa sholat.

Midnight Carnival





Malam ini. 


Saat aku berusaha keras untuk memejamkan mata. 


Saat aku mencoba untuk tidur dan menghemat tenaga untuk hari esok. 



Ada karnaval. 


Karnaval tengah malam. 



Bianglala dengan kuda bermata merah delima. 


Berputar-putar membentuk pusaran yang berkobar. 



Badut-badut gendut bertaring panjang. 


Berjalan absurd sambil memuntahkan kelabang. 



Wanita peramal di tenda sudut. 


Berbaju kumal hitam tertawa berkalungkan sabut. 



Boneka-boneka yang tertawa. Meringis. 


Boneka-boneka yang melotot. Bermain lempar pisau. 


Boneka-boneka yang berdarah. Yang merasakan amarah. 



Boneka-boneka yang hidup, 



dan mati. 



Lelaki jangkung berwajah buruk. 


Berkaki kuda berekor ular. 



Menjabat tanganku dan berkata, 



"Selamat Datang."

Brightest Star


Pernahkah aku menceritakan kepadamu kisah tentang sepotong bintang yang paling terang? Belum? Baiklah. Duduk yang manis, Sayangku, akan kuceritakan padamu kisah ini.

Aku, sama seperti kakekmu, adalah seorang penjelajah. Penakluk. Kami, lelaki penguasa dunia, memiliki apapun yang kami inginkan. Tidak, tidak seperti yang kau lakukan sekarang Sayangku: merengek dan menangis lalu kaudapatkan apa yang kau inginkan. Kami harus membayar apa yang kami inginkan dengan harga yang setimpal. Itu hukum kami, prinsip kami. Tak bisa tidak. Kakekmu dan aku mendapatkan semua ini melalui pengorbanan yang pantas, Sayangku.

Suatu hari, aku bertemu dia. Dia yang menawan. Dia yang lembut. Dia yang elok. Dia yang begitu hidup.

Dia yang SEMPURNA.

Uhuk uhuk, ambilkan aku segelas air Sayangku. Kerongkonganku mulai mengering. Ah, terima kasih. Glek glek glek. Segar sekali. Terima kasih Sayangku.

Lalu kusapa dia. Dia hanya tersenyum sambil menunduk. Kau dengar, Sayangku? HANYA TERSENYUM DAN AKU MENYUKAINYA. Oh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku kebingungan.

Aku menceritakan hal ini pada kakekmu dan ia menyarankan padaku untuk melakukan apapun yang aku bisa agar bisa memilikinya.

Aku setuju. Aku mendekatinya, berteman dengannya selama empat setengah tahun dan delapan bulan, mendampinginya, mendengarkan segala perkataannya, dan membantu menyelesaikan segala permasalahan hidupnya. Lalu, pada hari Rabu malam bulan November, aku membeli sebuah cincin bertatahkan berlian putih berukuran kecil di salah satu sisinya. Aku mengusap cincin itu dengan hati-hati, memasukkannya kedalam kotak berwarna merah darah.

Aku menyimpannya di saku kemejaku lalu mengenakan jas terbaikku.

Malam besoknya, aku mengajak dia makan malam di rumahku. Aku memasak sendiri semua makanan malam itu, dan tak sia-sia: ia memuji masakanku. Aku nyalakan lilin dan mengeluarkan kotak cincin. Dia tampak terkejut.

Aku menunggu reaksinya.

Dia hanya menunduk.

Menunduk.

Dan menunduk.

Cincinku jatuh ke lantai. Gigiku bergemeretak. Aku berharap aku tukang sulap yang mampu mengubah apapun dalam sekejap. Aku mencari-cari tongkat sulapku, namun tak ada tongkat sulap. Tak pernah ada tongkat sulap. Hanya ada pisau steak disisi mejaku.

Kuraih pisau itu dan kuayunkan, berharap keajaiban terjadi. Dan voila! Dia menjadi milikku.

Kau bertanya, dimana bintangnya Sayangku? Disini, didalam kotak merah darah bekas tempat cincin itu. Kadang-kadang ia mengeluarkan airmata.

George Gershwin - Rhapsody In Blue



(Klik disini untuk mendengarkan lagu yang mendasari cerita ini)

Ada seorang anak kecil, 10 tahunan, berjalan berjingkat dengan riang. Menyapa tiap orang yang lewat dengan suaranya yang nyaring dan senyumnya yang lebar. Orang-orang hanya bisa tersenyum sembari membalas sapaannya.

Anak ini terus berjalan. Di tangannya ada kado besar berpita merah. Dia terus melanjutkan langkah riangnya, berjingkat, dan tersenyum lebar.

Si anak pun sampai di depan sebuah rumah besar berpagar garis-garis. Suasana di dalam rumah sangat ramai, riuh dengan suara gelak tawa dan denting sendok garpu yang beradu. Pagar terbuka. Dengan senyum lebarnya, si anak melenggang masuk ke dalam beranda rumah.

Pesta besar.

Berbagai macam hidangan tersaji. Daging panggang, sirup, wine, sampai caviar. Berbagai hiburan ada disana mulai dari kabaret, sirkus, pantomim, hingga sulap.

Anak itu melongok ke kanan dan ke kiri, mencari-cari, hingga matanya tertuju pada dia.

Gadis itu.

Rambut pirang bergelombang dengan pita merah di atasnya. Gaun putih selutut. Kalung berlian putih.

Sebentuk cincin di jari manisnya.

Keduanya saling memandang satu sama lain. Dua detik.

Atau dua tahun?

Sesaat kemudian, lelaki dengan tuksedo hitam muncul dari balik tirai. Tangannya menggamit jari-jari gadis itu, mengajaknya berdansa.

Cincin yang sama.

Si anak cuma bisa diam. Sesaat, entah keberanian dari mana memaksa si anak agar memanggil sang gadis dan memberikan kado di tangannya.

Dan si anak jagoan ini melakukannya. Dan tangan mereka bersentuhan.

"Terimakasih". Nada dawai harpa Orpheus mengalun lembut dari bibirnya.

Si anak tersenyum lebar. Lalu ia berbalik dan pulang ke rumah.