Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan

Kamu Punya Superman, Aku Punya Gatotkaca!


Seorang bayi lahir. Dinamakan Tetuko. Kelahirannya penuh kontroversi. Perlu pusaka suci untuk memotong ari-arinya.

Jabang Tetuko tak sempat menikmati masa bayinya bersama sang bunda. Begitu lahir, ia langsung dicemplungkan ke dalam kawah Candradimuka. Digodog dan digembleng habis-habisan.

Hasilnya sangat memuaskan: si bayi Tetuko jadi super kuat bak Superman. Kebal segala senjata, otot kawat tulang besi, dan kemampuan terbang secepat kilat.

Saat dewasa, si Tetuko dikenal orang dengan nama Gatotkaca. Dia terbang, menyambar kepala para raksasa, dan menyiramkan darah Kurawa ke bumi pertiwi.

Tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Hingga sang dalang mengakhiri pertunjukan malam itu dan menaruhnya dalam kotak persegi panjang berukuran 1x2 meter.

Pak Tani Yang Ingin Menjadi Gunung


Iki cerito jaman SD biyen. Mumpung eling, diabadikno wae nang blog.

Ngene ceritoe: 

Dulu, ada seorang petani yang suka mengeluh. 

Dia mengeluh sama Tuhan, "Ya Tuhan, kok panas banget ya hari ini?" 

Ndilalah kersaning Gusti, petani itu berubah. Bertransformasi menjadi matahari. The light of the world. Dia menyinari dan memanggang dunia. 

Enak-enak jadi matahari, lha kok mak njemunuk ada awan mendung nyelonong nutupi pak tani alias matahari itu. Pak tani itupun ngresulo lagi. "Ya Tuhan, ini awan kok kurang kerjaan banget ya, nutup-nutupin matahari?" 

Wuzzhhh! Dalam sekejap pak tani berubah jadi awan. Membasahi bumi, kadang2 membanjiri juga. 

WeZzzh!! Awan superior jelmaan pak tani tak bertahan lama karena sang angin dan meniupnya hingga tercerai berai. Lagi-lagi pak tani wadul ke Tuhan, dan dalam sak klebatan pak tani sudah berubah jadi angin. Terbang ngalor ngidul. Bikin topan di situ dan tornado disana. Meniup semua yang ada. 

Tapi, pas enak-enak terbang sambil niup-niup, angin jelmaan pak tani ini nabrak gunung yang diam membisu layaknya raksasa. Disebul bolak balik, gunung itu tetap tak bergeming. 

Pak tani kita inipun mengadu ke Tuhan dan mak jlegerrr: pak tani jadi gunung. Diam, mendongak ke langit sambil sesekali batuk lahar. 

Tapi suatu ketika, gunung jelmaan wak tani kita ini kesakitan. Apa gerangan yang terjadi? Usut punya usut, ternyata ada orang yang macul-macul, bikin terasiring di badannya. Another complaint to his God, dan wuzzzzz..... 

Pak tani mbalik lagi jadi pak tani.

Mari Mengenali Karakter Anda Melalui Kisah (Fiktif) Dari Miyamoto Musashi Berikut Ini!

Ape lu liat-liat?

Jagoan pedang kita, Miyamoto Musashi ditantang sama bandit desa bernama Bejo Watanabe.

Eitts, jangan protes. Simak dulu ceritanya.

Si Bejo Watanabe ini gerah lantaran Musashi tiba-tiba nyeludur masuk wilayah kekuasaannya dan menggarap ladang tanpa memberikan upeti. Musashi berdalih bahwa tanah kosong itu bukan milik siapa-siapa, jadi ia merasa berhak untuk mengolahnya. Pada masa itu belum ada surat tanah dan sebagainya, sehingga barangsiapa menemukan lahan kosong, maka siapapun berhak untuk mengolah dan memanfaatkannya.

Karena dua-duanya sama-sama ngotot, maka pedanglah yang jadi penengahnya. Bejo Watanabe menghunus pedangnya, menantang Musashi untuk melakukan hal yang serupa.

Musashi sempat ragu. Dirabanya ujung gagang pedangnya. Setelah melihat sebentar ke arah Bejo Watanabe, lalu....

SETTT!! CKRING!!!

Musashi balik kanan, mengemasi barang-barangnya lalu pergi meninggalkan Bejo Watanabe dan ladangnya.

Dengan wajah blo'on, Bejo Watanabe melongo. Musashi terus berjalan, semakin menjauh.

Lima tahun Musashi mencari jawaban kenapa dia mundur dari pertarungan itu. Mungkinkah dia gengsi kalau harus berhadapan dengan orang sekaliber Bejo W? (capek nulisnya) Dia tahu, kemampuan berpedang si Bejo W tidak ada apa-apanya. Dengan sekali tebas, Musashi yakin ia bisa segera bikin kepala si Bejo ini melayang.

Atau mungkin ia memutuskan untuk melawan sesuatu yang lebih kuat dari si Bejo W: keinginan untuk menang?

Atau mungkin ia malu diliatin orang banyak? Entahlah. Yang pasti masyarakat terus-menerus menggunjingkan dirinya yang 'kabur' dari duel itu.

Di bulan Desember akhir dari lima tahun pengembaraannya, Musashi ketemu (Alm) Ustadz Jefri. Ia mencurahkan kegundahan hatinya ini pada sang ustadz dan minta nasehat.

Ustadz kita ini cuma tersenyum lalu bilang, "Nggak ada gunanya kamu menghiraukan gunjingan-gunjingan masyarakat tentang kamu, namun kamu tetap harus membuktikan karakter dan kepribadianmu. Orang boleh bilang kamu pengecut dan kamu tidak perlu menanggapinya. Yang perlu kamu lakukan cuma sekedar membuktikan karakter dan kepribadianmu: apakah kamu seorang pengecut atau bukan".

*********

Nah para pembacaku yang baik dan luas hatinya, jangan langsung gundah gulana ketika Anda dituduh ini itu padahal Anda nggak merasa seperti itu. Nggak perlu sampeyan pedulikan tuduhan-tuduhan semacam itu. Tapi sampeyan juga kudu introspeksi diri karena nggak mungkin ada asap kalo nggak ada api. Yang perlu sampeyan lakukan cuma berbuat, melakukan hal yang merepresentasikan karakter sampeyan. Urusan salah tompo dan sebagainya itu bukan urusan sampeyan.